Sabtu, 10 Juli 2010

PENGENALAN PENYAKIT TANAMAN PANGAN

I. PENDAHULUAN

Penyakit tanaman pangan dapat mengakibatkan kerugian baik secara kuantitas maupun kualitas hasil panen. Upaya untuk mengurangi kerugian akibat infeksi penyakit tanaman tersebut dapat dilakukan pengendalian dengan sasaran dan cara yang tepat. Pengamatan yang dini dan identifikasi penyakit yang tepat akan menjamin keberhasilan pengendalian.

Tanaman yang sakit adalah tanaman yang tidak dapat melakukan aktifitas fisiologis secara sempurna, yang akan mengakibatkan tidak sempurnanya produksi baik secara kualitas maupun kuantitas. Secara umum penyakit tanaman diakibatkan oleh faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik adalah penyakit tanaman yang disebabkan oleh mikroorganisme (mahluk hidup) yang antara lain berupa jamur, bakteri, virus, nematoda, MLO dll. Sedangkan faktor abiotik antara lain pengaruh dari suhu, kelembaban, defisiensi unsur hara atau keracunan unsur hara.

Penyakit tanaman di lapangan dapat dikenali berdasarkan tanda dan gejala penyakit. Tanda penyakit merupakan bagian mikroorganisme patogen yang dapat diamati dengan mata biasa yang mencirikan jenis penyebab penyakit tersebut. Misalnya miselia yang berbentuk seperti kapas, merupakan salah satu tanda jamur patogen yang menginfeksi tanaman tersebut. Bakterioze merupakan tanda bahwa penyakit terinfeksi bakteri. Sedangkan gejala merupakan reaksi tanaman terhadap aksi (infeksi) yang dilakukan oleh mikroorganime patogen. Gejala pada umumnya sangat spesifik tergantung pada spesies yang menginfeksinya, sehingga gejala penyakit tersebut dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi jenis patogen yang menginfeksi di lapang.


Di lapang kadang-kadang sulit untuk membedakan antara gejala serangan oleh mikroorganisme patogen atau gangguan fisiologis, Misalnya pada penyakit padi gejala kerdil, perubahan warna daun atau ketidak normalan pertumbuhan malai sulit dibedakan khususnya apabila gejala tersebut telah lanjut.

Peningkatan kemampuan para petugas lapang dalam mengidentifikasi jenis penyakit tanaman pangan, khususnya para petugas yang baru perlu dilakukan. Hal ini akan sangat membantu apabila para petugas tersebut mendapatkan tugas untuk melakukan pengamatan di lapang. Hal ini akan sangat mebantu para pengambil keputusan untuk mengambil tindakan termasuk dalam kasus penyakit tanaman pangan.

Dalam tulisan ini akan diuraikan diperkenalkan beberapa jenis penyakit dan gangguan fisiologis tanaman pangan. Diharapkan tulisan ini dapat membantu para Petugas Perlindungan Tanaman (POPT), khususnya bagi tenaga pendampingan dan kontrak yang akan ditugaskan di berbagai daerah.

II. PENGENALAN PENYAKIT PADI

Tanaman yang sakit sebenarnya adalah hasil interaksi positif faktor-faktor pendukungnya yaitu tanaman inang, lingkungan dan patogen, yang dikenal dengan segitiga penyakit (Wibowo, 1997). Patogen merupakan mikro organisme penyebab penyakit, beberapa jenis mikroorganisme dikenal sebagai penyebab penyakit yang merugikan untuk tanaman, untuk tanaman padi didominasi oleh golongan jamur, bakteri dan virus. Tanaman padi saat ini dibudidayakan di sawah, rawa lebak, pasang surut dan tegalan. Sebaran atau dominasi penyakit padi biasanya mengikuti lingkungan yang spesifik tersebut. Mikroorganisme memerlukan lingkungan yang sesuai, hal ini mengakibatkan sebaran penyakit bersifat spesifik lokasi, misalnya dominasi penyakit padi lingkungan Rawa, Lebak dan Pasang Surut kemungkinan akan berbeda dengan lingkungan sawah.. Sedangkan gangguan fisiologis pada umumnya disebabkan oleh kekurangan hara baik mikro maupun makro serta keracunan yang mampu menghambat pertumbuhan tanaman. Identifikasi beberapa jenis penyakit utama padi dan gangguan fisologis akan diuraikan lebih lanjut.

A. Penyakit yang disebabkan oleh Jamur Patogen Tanaman.

Jamur patogenik umumnya bersifat non obligat parasit, yang dapat ditumbuhkan dengan mudah pada media biakan sintetis. Jamur yang aktif sebagai patogen umumnya pada keadaan tidak sempurna (Imperfect state), meskipun beberapa patogen penyakit padi juga pada keadaan sempurna (Perfect state). Beberapa jamur patogen tanaman padi antara lain adalah sebagai berikut :

2.A.1. Penyakit Blas

Gejala

Gejala penyakit blas : secara umum dapat digolongkan menjadi blas daun yang menyerang pada stadia vegetatif dan blas leher pada stadia generatif (menginfeksi pangkal malai padi) . Bercak pada daun mempunyai ciri khas berbentuk elips atau belah ketupat. Bagian tengah bercak berwarna kelabu atau keputihan, dan bagian tepi biasanya cokelat atau merah kecoklatan. Bentuk dan warna bercak tergantung pada kondisi lingkungan, umur bercak, dan kepekaan tanaman padi. Reaksi ketahanan varietas ditunjukan dari warna gejala pada daun, masing-masing adalah bercak cokelat kecil menunjukkan reaksi tahan, coklat kekuningan reaksi ketahanan moderat, cokelat kelabu kekuningan reaksi peka, dan abu abu keputihan sangat peka. Gejala awal dimulai dari bercak kecil berwarna cokelat, keputihan, akan berkembang dengan cepat pada kondisi kelembaban tinggi dan varietas yang peka. Bercak dapat berkembang sampai ukuran panjang 1 – 1,5 cm dan lebar 0,3 - 0,5 cm, biasanya tepi bercak berwarna cokelat. Bercak yang banyak pada daun dapat mengakibatkan kematian tanaman, yang diikuti dengan pengeringan pelepah. Bibit yang terinfeksi berat atau tanaman pada stadia pertumbuhan akan dapat mengering dan mati, di lapang. Intensitas serangan yang tinggi pada bercak daun di saat pertumbuhan vegetatif akan dapat mengakibatkan kekerdilan. Gejala pada leher malai ditunjukan dengan warna cokelat keabuan pada pangkal leher malai, daerah dekat leher malai berwarna cokelat dan semua cabang dan ranting menunjukan gejala pengeringan. Infeksi pada leher malai akan mengakibatkan mudah patahnya leher malai yang akan mengakibatkan terganggunya pengisian malai.

Patogen

Identifikasi patogen penyebab penyakit dapat dilakukan di laboratorium, konidia jamur patogen dapat mudah teramati setelah bagian tanaman tersebut dilembabkan. Yang kemudian dengan mudah konidianya dapat diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran sedang. Bentuk konidia adalah seperti buah pear dengan tiga septa, ukuran konidia berkisar antara 16-32 x 7,0 – 11 μm (Sawada,1917 cit Ou, 1985). Penyakit blas disebabkan oleh jamur patogen Pyricularia grisea. Konidia P. grisea secara morfologis kemungkinan sama akan tetapi tingkat virulensi (keganasan) bisa berbeda-beda. Variasi genetis (ras blas) mudah berubah yang mengakibatkan cepat patahnya ketahanan tanaman. Untuk mengidentifikasi tingkat virulensi patogen dapat dilakukan dengan melihat reaksi terhadap satu set (terdiri dari 7 varietas) Differensial Varietas Indonesia (DVI) ( Mogi et, al, 1992).

2.A2. Penyakit Bercak Coklat

Gejala

Pada umumnya gejala penyakit bercak coklat adalah pada daun dan glumae (bagian bulir), meskipun dapat muncul pelepah daun, cabang-cabang malai bibit yang muda dan batang.

Bercak pada daun yang khas berbentuk oval, berukuran variatif, bentuk gejala seragam seringkali tersebar di seluruh permukaan daun. Bercak berwarna coklat, dilingkari dengan warna abu bagian tengah bercak bulat berwarna putih. Gejala yang masih muda berupa bintik-bintik coklat atau coklat keabuan. Pada varietas peka bercak akan lebih lebar, berukuran mencapai 1 Cm atau lebih. Seringkali jumlah bercak memenuhi permukaan daun, yang dapat mengakibatkan daun layu.

Gejala pada bulir ditandai dengan bercak coklat atau hitam pada bagian glumae, untuk kasus dengan tingkat intensitas yang tinggi miselia jamur dapat menembus bagian dalam glumae dan mengakibatkan bercak coklat.

Penyakit bercak coklat termasuk penyakit yang terbawa oleh benih, koleoptil kemungkinan dapat terinfeksi dari biji. Bercak kecil berwarna coklat, berbentuk bulat atau oval. Akar muda yang terinfeksi menunjuan bercak hitam.

Patogen

Konidia bentuknya sedikit melegkung (kurva), membesar dibagian tengah dengan ukuran35 - 170 x 11 – 17 µm, jumlah septa mencapai 13 (Ou, 1985). Konidia yang telah masak tumbuh pada kedua ujung konidia. Jamur patogen penyakit bercak coklat adalah Cocliobolus miyabeanus. (Helminthosporium sp)

2.A3. Penyakit Bercak Coklat Cercospora (Narrow brown spot)

Gejala

Bercak umumnya pada daun dengan bentuk garis, pendek dan berwarna coklat. Bercak memanjang sejajar dengan tulang daun ukuran panjang 2 – 10 mm dan lebar 1 mm. Pada varietas yang peka seluruh permukaan daun dipenuhi dengan bercak bergaris coklat kehitaman, bercak coklat bersambungan yang megakibatkan daun layu. Infeksi yang berat akan mengakibatkan malai dan cabang malai berwarna coklat dan mengering.

Patogen

Konidia muncul dari stomata, berbentuk silindris terdiri dari 3 – 10 septa dengan berukuran 20- 60 x 5 µm. Jamur patogen dulu dikenal dengan Cercospora janseana (C. oryzae). Bentuk teleomorph dikenal dengan Sphaerulina oryzina..

2.A4. Penyakit Leaf Smut

Gejala

Jamur patogen mengakibatkan bercak-bercak yang kecil, berbentuk garis pendek, lingkaran atau elip, dengan ukuran panjang 0,5 – 5 mm dan lebar 0,5 – 1,5 mm. Banyak spot-spor (bercak-bercak) kecil yang disebut dengan “sori” di seluruh permukaan daun, meskipun demikian masih dapat dibedakan dengan jelas antara satu bercak dengan bercak yang lain. Apabila serangannya berat maka daun akan menguning dan menggulung. Bercak-bercak tertutup oleh epidermis daun, apabila daun diberi tetasan air makan epidermis akan mengelupas dan terlihat masa spora jamur tersebut.

Patogen

Entyloma oryzae merupakan jamur penyebab penyakit leaf smut, spora berbentuk bulat atau bulat lonjong dengan ukuran 6-15 x 5-9 µm dengan ketebalan epispora 1,5 µm.

2.A5. Penyakit “Stackburn”

Gejala

Gejala yang khas pada daun adalah besar, berbentuk oval atau lingkaran, berwarna coklat tua, ujung gejala lancip dan dibagian tengah berwarna keputihan dan mebentuk seperti cincin. Bercak ukrannya bervariasi yaitu panjang 0,3 – 1 Cm, kadang kadang ditutup dengan cincin yang kedua. Biasanya yang dapat diamati di lapang hanya beberapa bercak pada beberapa daun. Bulir padi yang terinfeksi menunjukan gejala dibagian glumae yaitu bercak berwarna coklat pucat sampai keputihan dengan dengan bercak luar yang berwarna coklat tua dengan ukuran relatif besar.

Patogen

Alternaria padwickii, merupakan jamur patogen penyebab penyakit tersebut. Konidia memanjang dengan bagian ujung menyempit, mempunyai 3 sampai 5 septa, berwarna kuning krem, yang dibatasi septan dinding sel tebal, lurus, dengan sel kedua atau ketiga membesar. Jamur dapat bertahan hidup pada jerami dan menyebar pada saat pengolahan tanah yang berpotensi menginfeksi pada pembibitan padi.

2.A.6. Penyakit “Leaf Sclad”

Gejala

Gejala khas adalah zona bercak yang dimulai dari ujung atau tepi daun. Bercak pada umumnya mudah ditemukan pada daun yang tua, dengan bentuk lingkaran biasanya terdapat “halo” berwarna coklat. Bercak berukuran panjang 1-5 Cm dengan lebar 0,5 – 1 Cm. Bercak memungkinkan mencapai panjang 25 Cm. Gejala penyakit kemungkinan mnginfeksi bagian pelepah, meskipun seringkali sulit dibedakan dengan penyebab penyakit lainnya.

Patogen

Jamur penyebab penyakit adalah Rhyncosprium oryzae. Konidia berbentuk bulan sabit, sel tunggal pada saat muda dan dua sel pada stadia masak., biasanya terdiri 2-3 septa. Pada umunya spora berukuran 10-12 x 3,5 -4µm.

2.A.7. Busuk Batang

Gejala

Penyakit ini pada umumnya muncul diakhir masa pertumbuhan tanaman padi. Dimulai dengan bercak kecil yang tidak beraturan, berwarna coklat kehitaman dibagian pelepah yang berdekatan dengan batas air. Kadang-kadang sklerotia ditemukan pada batang yang terinfeksi. Gejala berkembang, jamur menetrasi kebagian dalam pelepah yang mengakibatkan busuk batang. Sejumlah apresoria dengan ditemukan pada bagian tanaman yang terinfeksi.

Patogen

Jamur penyebab penyakit adalah Helminthosporium sigmodeum, konidiospora berukuran 150 x 5 µm; konidia 55-65 x 11-14 µm. Sklerotia berukuran 175-580 µm. Miselia – hifa berwarna putih, mempunyai septa, garis tengah hifa 2-5 µm. Apabila ditumbuhkan pada media awalnya miselia berwarna putih, akhirnya menjadi putih kehitaman pada permukaan media. Pada tanaman inang miselia berwarna putih di dalam batang.

2.A.8. Penyakit Bakanae

Gejala

Gejala mudah dikenali dengan pertumbuhan yang abnormal, yang dapat ditemukan baik pada persemaian maupun pertanaman. Pada persemaian tanaman lebih tinggi beberapa dibandingkan dengan tanaman yang normal, kurus dan warna hijau kekuningan. Beberapa variasi gejala yang ditunjukan adalah sebagai berikut :

1. memanjang

2. memanjang pada saat awal kemudian tumbuh normal

3. memanjang pada awalnya, kemudian tumbuk mengerdil

4. pertumbuhan kerdil

5. tidak tumbuh.

Pertanaman yang memasuki pemasakan menonjol tingginya dibandingkan tanaman yang lain, daun bendera berwarna kuning pucat . Dengan sinar matahari dan terpaan angin gejala penyakit ini mudah dikenali. Apabila tanaman mengering dapat dengan mudah dikenali jamur yang berwarna oranye di bagian bawah batang.

Patogen

Penyebab penyakit adalah Fusarium moniliforme (=Gibeerella fujikuroi). Jamur ini bervariasi untuk septa, konidia, bentuk mikrokonidia dan makrokonidia, seklrotia dan stromata.

2.A.9. Hawar pelepah

Gejala

Penyakit ini menimbulkan bercak pada pelepah daun. Bercak awalnya berbentuk elip, kadang-kadang tidak beraturan, warna hijau keabuan, ukuran bervariasi dengan panjang 1 sampai 3 Cm. Bagian tengah bercak berwarna putih keabuan, dengan tepi berwarna coklat. Ukuran bercak dan sklerotia bervariasi tergantung kondisi lingkungan. Pada kondisi yang lembab miselia tumbuh pada pelepah yang terinfeksi. Di lapang bercak awalnya muncul diatas batas air, yang kemudian berkembang ke bagian atas. Untuk kasus infeksi yang berat gejala dapat muncul pada daun.

Patogen

Penyebab penyakit adalah Rhizoctonia solani. Miselia yang muda tidak berwarna , apabila menjadi lebih tua berubah coklat kekuningan, dengan ukuran garis tengah berkisar antara 8 – 12 µm. Ada tiga tipe miselium yang dihasilkan yaitu :1. hifa yang lurus; 2. Hifa yang banyak cabang dan 3. Miselium yang terdiri dari sel-sel monilioid yang tergabung dalam formasi sklerotia.

2.A.10. Penyakit Busuk Pelepah ( Busuk pelepah)

Gejala

Pelepah yang membusuk seringkali ditemukan pada pelepah yang membungkus malai muda. Bercak berbentuk bulat atau kadang-kadang tidak beraturan, dengan ukuran panjang 0,5 – 1,5µm. Dengan bagian tepi berwarna coklat dan bagian tengah kelabu. Infeksi cepat meluas dan dapat menutup seluruh bagian pelepah daun. Pada pelepah yang busuk biasanya mudah ditemukan tepung putih. Jamur juga mengakibatkan warna coklat pada butir padi, dan dipermukaandalam pelepah yang dari luar terlihat normal.

Patogen

Jamur penyebab penyakit adalah Sarocladium oryzae, miselia berwarna putih, mempunyai septa, dengan garis tengah 1,5 – 2µm. Konidiospora muncul dari miselia, sedikit lebih tipis dibandingkan hifa yang vegetatif.

2. A.11. False smut

Gejala

Jamur dapat merubah butir padi pada malai menjadi kumpulan spora yang membentuk bola berwarna kuning kehijauan. Awalnya kecil kemudian dengan cepat dapat berkembang hingga garis tengah mencapai 1 Cm atau lebih. Jamur tersebut padat, lembut dan berwarna kuning yang ditutup membran. Warna pelan-pelan akan berubah dari kuning menjadi oranye, hijau kekuningan dan akhirnya menjadi hitam kehijauan.

Patogen

Ustilagonoidea virens merupakan jamur patogen penyebab penyakit, dahulu juga dikenal dengan sebutan Ustilago virens. Konidia berbentuk lonjong dan berukuran sangat kecil. Beberapa bola spora yang berwarna hijau membentuk sklerotia di bagian tengahnya. Didaerah yang bermusim dingin sklerotia dapat bertahan hidup (dormansi) dan akan tumbuh menjelang musim semi.

2A.12. Kernel smut

Gejala

Gejala penyakit ini sering diketemukan pada masa pemasakan tanaman padi. Apabila biji padi ditekan akan keluar semburan seperti bubuk yang berwarna hitam. Seringkali biji padi isinya berubah menjadi tepung yang berwarna hitam. Apabila infeksi penyakit tidak berat, benih masih tetap dapat hidup meskipun tumbuh kerdil./

Patogen

Tilletia barclayana merupakan jamur penyebab penyakit kernel smut. Ciri-ciri jamur tersebut adalah spora mengelompok membentuk massa, warna hitam, spora berbentuk bulat tak beraturan, kadang-kadang elip ukuran garis tengah 18,5 – 23,0 µm dengan panjang 22,5 -26,0 x 18,0 – 22,0 µm.

2.A.13. Penyakit kembang Api (Udbatta)

Gejala

Gejala sangat mudah dikenali yaitu malai tegak, malai yang terinfeksi di dalam pelepah bulirnya saling melekat satu sama lain oleh lilitan miselia jamur. Kemuadian malai yang telah muncul penuh terlihat seperti kembanga api, bulir-bulir padi yang menyatu berubah menjadi warna hitam kelabu dan mengeras. Tanaman yang terinfeksi biasanya kerdil. Kadang-kadang miselia yang berwarna putih dan konidia membentuk garis putih pada daun sepanjang veina sebelum munculnya malai. Biasanya semua anakan terinfeksi, mengidikasikan bahwa penyakit dapat menginfeksi secara sistemik.

Patogen

Ephelis oryzae merupakan jamur penyebab penyakit tersebut. Spora berbentuk seperti jarum, tidak berwarna , dengan ukuran 20-35 x 1 µm.. Konidiospora bercabang, tidak berwarna, berukuran 57-85 x 0,8 x 1,4 µm. Konidia aseptate.

2B. Penyakit Yang Disebabkan Oleh Bakteri Patogen.

Penyakit padi yang disebabkan oleh bakteri patogen saat ini telah dikenal 8 jenis ( Mogi et al, 1992). Bakteri patogen dapat menginfeksi tanaman padi melalui luka alami, misalnya stomata, hidatoda atau melalui luka fisik dengan alat pertanian. Bagian tanaman yang terinfeksi antara lain batang, daun dan bulir. Meskipun demikian yang banyak dilaporkan telah tersebar di daerah rawa lbak dan pasang surut penyakit Hawar Daun Bakteri dan Daun Bergaris Bakteri.

Identifikasi penyakit bakteri pada tanaman padi dapat dilakukan secara visual dengan mengenali gejala awal yang spesifik, atau dengan mengamati bakteriooze. Cara mudah mengamati bakteriooze adalah dengan memotong daun bergjala awal, kemudian dimasukan kedalam tabung reaksi atau diamati di bawah mikroskop, bakteriooze akan muncul dari tepi daun tersebut.

2.B.1. Penyakit Hawar Daun Bakteri

Gejala

Gejala tpenyakit hawar daun bakteri pada anaman padi yang terinfeksi oleh bakteri patogen dapat terjadi baik pada fase vegetatif maupun generatif. Pada tanaman muda yang peka gejala kresek akan muncul, kemudian tanaman akan layu dan mati.

Gejala biasanya baru terlihat dengan jelas pada saat stadia anakan maksimum atau pembungaan, jarang gejala tersebut muncul pada tanaman persemaian (khususnya di daerah sub tropis) Pada daun gejala diawali dari tepi daun, beberapa cm dari ujung daun, bentuk garis seperti siraman air. Gejala cepat berkembang secara memanjang maupun melebar di kedua tepi daun, umumnya berbentuk garis gelombang yang berwarna kuning dan cepat sekali berubah menjadi oranye atau mengering dalam beberapa hari. Pada varietas yang peka gejala dapat berkembang sampai ke arah pelepah daun tanaman. Pada permukaan bercak yang masih muda, terdapat tetesan cairan seperti yang sangat mudah diamati pada pagi hari, khusunya apabila diterawangkan pada sinar matahari bercak transparan seperti tetesan minyak akan dapat terlihat dengan jelas.

Gejala kresek dapat diamati 1 atau 2 hari setelah tanam, daun-daun yang terinfeksi berubah menjadi hijau kelabu dan mulai menggulung dibagian ujung dan tepi daun. Pada bibit yang dipotong, gejala diawali di dekat daun yang terpotong yaitu warna daun berubah menjadi hijau abu-abu. Gejala kresek hanya didapatkan di daerah tropis, pada umumnya akan sangat merugikan oleh karena infeksi terjadi sangat dini yaitu pada tanaman muda. Tanaman muda yang terinfeksi tersebut akan menjadi kerdil, layu dan bahkan mati. Apabila kondisi drainasi kurang baik seperti pada umumnya di lingkungan rawa lebak dan pasang surut, perkembangan akan dapat dipacu lebih cepat.

Diagnosa Penyakit di Lapang

Diagnosa penyakit HDB di lapang berdasarkan gejala yang dapat diamati secara visual adalah dengan melihat bentuk gejala pada daun, yaitu daun berwarna oranye atau mengering pada kedua tepi daun. Apabila dilakukan pengamatan terhadap gejala yang masih muda, terutama pada pagi hari maka pengamatan terhadap bakteriooze akan sangat membantu. Daun yang terdapat bakteriooze apabila dilihat kearah sinar matahari, maka akan terlihat bentuk seperti tetesan minyak. Kemudian apabila bagian gejala tersebut di potong dan kemudian dimasukkan ke dalam air, maka dari bekas potongan akan keluar eksudat yang berwarna putih. Hal ini menunjukan ciri khas dari infeksi bakteri. Karena bakteri yang menginfeksi bagian xylem apabila diberi setetes air, maka akan segera keluar. Para praktisi yang telah seringkali mengamati di lapang, akan dengan mudah mengenali gejala penyakit HDB ini akan tetapi bagi pemula apabila masih belum yakin harus di bawa ke laboratorium untuk dilakukan diagnosa di laboratorium.

Diagnosa Penyakit di Laboratorium

Diagnosa penyakit HDB di laboratorium sebenarnya untuk meyakinkan terjadi infeksi akibat bakteri patogen tersebut, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah 1) memilih gejala penyakit HDB yang masih muda. 2) potong gejala yang berukuran 1 – 2 mm 3) amati di bawah mikroskop potongan daun tersebut, akan terlihat cairan yang keluar dari ujung daun. Bakteriooze yang muncul tersebut apabila ditumbuhkan pada media PSA, akan muncul koloni bakteri yang berwarna kuning. Untuk meyakinkan patogenesitasnya, maka uji hypersensitif dapat dilakukan yaitu dengan menginjeksikan suspensi bakteri tersebut ke dalam jaringan tanaman tembakau. Dalam waktu 1 – 2 hari jaringan daun tembakau akan berwarna kuning dan kemudian berubah cokelat dan akhirnya mengering. Apabila patogenesitasnya tidak ada maka jaringan yang diinjeksi tersebut tidak menunjukan perbedaan dengan jaringan daun yang sehat.

Patogen

Penyebab penyakit adalah bakteri patogen Xanthomonas campestris pv. Oryzae. Bakteri berbentuk batang dengan ujung tumpul, ukuran 1-2 x 0,8 µm , flagela monotrik dengan panjang 6-8 µm gram negatif, dan tidak membentuk spora ( Isiyama, 1922 cit Ou, 1985). Koloni bulat, konvex, warna kuning keputihan, permukaan halus pinggiran halus. Pigmen yang berwarna kuning dapat larut dalam air. Alat untuk dapat membantu identifikasi bakteri patogen adalah penggunaan media. Wakimoto potato semi-synthetic medium yang terdiri dari kentang 300 gr, Ca(NO3)2. 4 H2O, 0,5 gr; Na2HPO, 12H2O, 2 GR; Pepton, 5 GR; Sucrose, 20 gr; agar 15 gr dan air steril 1 ltr. Penggunaan media Wakimoto dapat dipergunakan untuk melakukan pengamatan kontaminasi bakteri patogen pada air irigasi di persawahan, yang dapat dimanfaatkan untuk pengamatan dini (Wibowo et al., 1998). Koloni bakteri patogen tumbuh lambat pada media nutrien agar (NA) maupun Potato Sukrosa Agar (PSA).

2.B.2. Daun Bergaris Bakteri ( Bacterial Leaf Streak ).

Gejala

Gejala awal adalah bercak bergaris yang transparan, bercak tersebut memanjang dan melebar mengikuti vena-vena daun. Gejala yang muncul pada vena-vena yang berdekatan akan mebentuk gejala dengan ukuran yang lebih besar. Bakteriooze umumnya akan muncul di permukaan pada kondisi dengan kelembaban yang cukup dan akan mengering dengan ukuran yang mengecil, yang akan tersebar memanjang mengikuti bercak bergaris tersebut. Apabila kondisi kelembaban dan curah hujan kemudian tertiup angin akan tersebar dan mengakibatkan infeksi pada daun yang sama atau daun yang lain sehingga menimbulkan gjala yang baru. Gejala yang telah tua berubah warna menjadi coklat terang. Infeksi pada varietas yang peka ditandai dengan munculnya halo berwarna kuning yang mengelilingi bercak. Pada stadia akhir penyakit ujung daun padi berubah coklat dan mati. Daun memutih dan muncul warna hijau keputihan yang banyak ditumbuhi oleh organisme saprofitik. Pada kondisi gejala daun seperti ini gejala tidak dapat dibedakan dengan gejala HDB.

Patogen

Bakteri patogen berbentuk batang dengan ukuran 1,2 x 0,3 – 0,5 µm tunggal seringkali berpasangan tepai tidak membentuk rantai, tidak berspora, tidak mempunyai kapsul, bergerak flegela tunggal ( Fang et al, 1957 cit Ou, 1985).. Suhu ideal untuk pertumbuhan adalah 28o C. Koloni bakteri pada Nutrien Agar (NA) adalah kuning pucat, mligkar, halus, tepi halus, konvek dan viscid. Penyebab penyakit adalah Xanthomonas campestris pv. oryzicola.

2.B.3. Penyakit Bakteri Lain

Penyakit bakteri lain yang kemungkinan saat ini muncul antara lain adalah Busuk Gabah Bakteri (Bacterial Grain Rot) yang disebabkan oleh Pseudomonas glumae, Bacterial Palea Browning yang disebabkan oleh Erwinia herbicola, kedua bakteri menginfeksi bulir padi Bacterial Foot Rot yang disebabkan oleh Erwinia chrysanthemi. Menginfeksi pada batang yang mampu mengakibatkan layu padat tanaman padi.

2.C. Penyakit yang disebabkaN oleh virus

Penyakit virus yang menginfeksi tanaman padi ditularkan oleh vektor serangga, dua jenis serangga yang berperan penting dalam openularan penyakit virus pada tanaman padi adalah Wereng Daun Hijau (WDH) ( Nephotettix spp) dan Wereng Batang Coklat (WBC) ( Nilaparvata sp). Penyakit tungro yang ditularkan olh WDH dan penyakit kerdil rumput yang ditularkan oleh WBC diketahui telah tersebar di daerah rawa lebak dan pasang surut.

2.C.1. Penyakit Tungro

Gejala

Gejala spesifik penyakit tungro adalah kerdil, terjadi prubahan warna oranye atau kuning terang sampai kuning kecoklatan. Biasannya dimulai dari daun bagian bawah yang kemudian berkembang pada daun yang lebih atas. Tanaman kril, jumlah anakan berkurang dan jumlah bulir berkurang.. Terjadi pemendekan buku-buku pada batang padi, sehingga mengakibatkan pertumbuhan daun seperti kipas (gejala kipas). Daun yang berarna oranye biasanya muncul bercak bercak coklat. Pada tanaman yang tua, warna daun kembali berwarna hijau, meskipun demikian gejala khas perubahan klorotik akan muncul pada singgang. Singgang merupakan sumber inokulum virus tungro, apabila populasi WDH penyebaran pnyakit akan cepat terutama apabila ditemukan tanaman muda. Sebaran penyakit dapat diergunakan untuk mengidentifikasi perbedaan serangan penyakit tungro dengan gangguan fisiologis.

Patogen

Patogen penybab penyakit kompleks virus tungro yang terdiri dari virus bentuk bacilliform (RTBV) dan speherical form (RTSV) (JICA, 1986). RTBV berukuran 31 nm x 100-160 nm dan RTSV bergaris tengah 30 nm. Virus ditularkan oleh serangga N. Nigropicctus dan N. Virescens. Setelah makan akuisisi penularan terjadi setelah 24 jam dan efisiensi terjadinnya penularan 77,4% ( Chen, 1970 cit Ou, 1985).

2.C.2. Penyakit Kerdil Rumput

Gejala

Tanaman yang terinfeksi berat menjadi kerdil, tumbuhan tanaman tidak normal. Daun-daun mmendek menyempit, warna daun hijau kekuningan dan dipenuhi dengan bercak-bercak seperti karat. Gejala di lapang mirip dengan tungro, tetapi daun yang terifeksi oleh kerdil rumput berwarna lebih hijau, mirip dengan tanaman yang cukup diberi pupuk nitrogen. Tanaman yang sakit menghasilkan jumlah anakan berukuran kecil yang banyak, yang meberikan kenampakan seperti kipas atau seperti pertumbuhan rumput. Penyakit bertahan sampai stadia pemasakan, panikel yang terbentuk sedikit bahkan tidak ada.

Patogen

Patogen penyebab penyakit adalah Rice Grassy Stunt. Secara etiologi kurang jelas, diamsusikan sebagai virus alami dan virus-seperti partikel, berukuran garis tengah 70 nm (IRRI, 1665). Semua stadia WBC berpotensi dapat menularkan virus, serangga yang makan akuisisi selama 30 menit telah cukup untuk mnularkan virus. Sedangkan masa inkubasi berkisar antara 10 – 11 hari, meskipun demikian kadang-kadang bervariasi 5 – 28 hari. Serangga tidak dapat menularkan virus dengan selang waktu 3 hari. Serangga yang membawa virus umurnya lebih pendek dibandingkan yang tidak membawa virus.

2.D. Penyakit Fisiologis ( Fisiological disorder)

Penyakit fisiologis mempunyai cakupan yang luas yang meliputi semua gangguan atau pertumbuhan tanaman abnormal diakibatkan oleh faktor abiotik (Non-parasit), anatara lain pengaruh suhu rendah atau tinggi, defisiensi pada tanah dan air,PH dan EH, senyawa-senyawa toksik seperti produksi H2S pada tanah, tekanan air dan kurang sinar. Gangguan nutrisi baik unsur hara makro maupun mikro seringkali terjadi pada tanaman padi. Apalagi untuk lingkungan tanaman padi di rawa lbk dan pasang surut.

2.D1. Defisiensi unsur hara

Beberapa jenis defisiensi yang seringkali terjadi pada tanaman padi adalah

Tabel 1. Defisiensi Unsur makro dan Mikro dan Gejala secara Visual (OU, 1985)

Defisiensi Unsur Hara

Gejala secara Visual

Nitrogen

(N)

Seluruh bagian tanaman menguning, hanya daun termuda hijau, daun tegak, kerdil, jumlah anakan sedikit

Fosfor

(P)

Daun hijau tua, tegak dan sempit, kerdil dan jumlah anakan sedikit

Kalium

(K)

Daun hijau tua dengan ujung daun bawah menguing, daun-daun rebah, seringkali diikuti brcak coklat,. Tanaman kerdil, jumlah anakan sedikit berkurang

Sulphur

(S)

Gejala mirip dan sulit dibedakan dengan kekurangan Nitrogen

Kalsium

(Ca)

Ujung –ujung daun berwarna putih, pada kasus ekstrim titik tumbuh mati, daun-daun yang tertinggal hijau, akar memanjang yang ujungnya menjadi coklat

Magnesium

(Mg)

Klorosis pada interveinal daun-daun bawah

Besi

(Fe)

Bagian dalam daun menjadi klorotik atau keputihan

Mangan

(Mn)

Klorosis pada interveinal daun termuda, daun lebih tua relatif lebih hijau kekuningan. Garis-garis klorotik menyebar ke bawah dari ujung daun dan bercak coklat gelap muncul, Daun yang baru muncul menjadi pendek, sempit dengan klorosis berat.

Seng

(Zn)

Tulang tengah daun bagian bawah mengalami klorosis, umumnya bercak dan garis koklatan muncul di daun-daun bawah, dikuti dengan kerdil

Boron

(Br)

Tanaman kerdil, ujung daun yang baru mencul berawrna putih, dan mati bila defisiensi berat

Cupper

(Cu)

Daun hijau kusam, menjadi nekrotis dekat ujung daun, dengan klorosis dikedua tepi daun. Daun yang baru muncuk gagal membuka, sehingga mirip jarum atau kadang-kadang setengah membuka dengan bagian bawah tidak berkembang normal.

Keracunan besi (Fe)

Bercak coklat kecil kecil pada bagian bawah daun, dimulai dari tepi daun, yang tetap hijau. Bila keracunan berat bagian tengah daun berwarna coklat kelabu.

Keracunan garam

Pertumbuhan kerdil dan jumlah anakan berkurang, tepi daun memutih dan seringkali diikuti dengan klorosis.

Kandungan silika rendah

Daun lunak dan rebah

2.D.2. Keracunan.

Kondisi pengairan yang buruk dan faktor tanah yanh bersifat masam di Rawa, Lebak dan pasang surut akan dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman padi. Menjadi tidak normal. Di Jepang dikenal dengan penyakit Akagare, meskipun demikian gejala tersebut sebenarnya mudah ditemukan pada persawahan yang buruk sistem pengairannya. Ada 3 tipe yang kemungkinan besar sering dijumpai di daerah rawa lebak dan pasang surut.

Tipe-I

Gejala akan muncul di daerah dengan sistem drainasi yang buruk, berpasir, pada sawah dataran rendah, tanah berlumpur atau kotor. Gejala pada umumnya pada stadia pembentukan anakan , daun-daun berubah menjadi hijau tua, kemudian bercak kecil merah kecoklatan muncul mulai dari tepi daun tua. Bercak menyebar keseluruh daun yang mengakibatkan daun mati, dimulai dari tepi daun. Akar brubah menjadi coklat terang, kadang-kadang menghitam dan membusuk. Penyebabnya adalah defisiensi unsur K (Kalium), gangguan ini dapat ditanggulangi dengan pemberian pupuk K.

Tipe II

Gejala akan muncul didaerah tanah berlumpur dan kotor dan sulit pengeringan di dattaran rendah. Tulang daun beubah kuning, kemudian diikuti munculnya bercak coklat kemerahan yang berkembang pada seluruh daun. Untuk serangan yang berat tidak diawali dengan perubahan daun menguning. Akar-akar yang terinfeksi berwarna merah kecoklatan, kehitaman dan membusuk.

Penyebabnya adalah kombinasi beberapa faktor antara lain.

- tingginya kandungan bahan organik

- produksi gas H2S

- Kandungan besi di permukaan tanah

- Unsur Fero yang berlebihan

- Kemampuan tanah yang abnormal untuk mendapatkan supply kalium secara alami.

Penyebab utama adalah tanaman yang menyerap unsur-unsur yang berbahaya seperti bahan organik yang bersifat asam,dan asan asetat, unsur fero cair dan H2S.

Tipe III

Gejala muncul di daerah tanah merah, dengan lempung berat, tanah dengan abu volkanik, tanah timbunan dari dataran tinggi. Semuanya defisiensi fosfor yang ekstrim dan seringkali bersifat asam. Bercak-bercak merah coklat muncul pertmakali pada tepi daun-daun tua yamh kemudian menyebar kseluruh permukaan daun. Sehingga warna daun berubah menjadi coklat kekuningan atau coklat. Penyebanya adalah defisiensi fosfor dan kalium.

E. PENGELOLAAN PENYAKIT PADI

Pengelolaan penyakit utama di daerah rawa lebak dan pasang surut saat ini secara umum mengandalkan penggunaan varietas tahan. Varietas Padi Tipe baru (VUTB) yang dikembangkan oleh Balitpa Sukamandi telah menghasilkan beberapa jenis padi rawa pasang surut yang tahan terhadap beberapa jenis penyakit biotik dan terhadap gangguan fisiologis. Beberapa VUTB untuk padi rawa pasang surut yang telah dilepas seperti tabel berikut ini.

Tabel 2. Varietas unggul Padi Tipe Baru Untuk kondisi rawa lebak pasang surut

Varietas

Ketahanan Terhadap Penyakit

Toleransi Cekaman Lingkungan

Potensi Hasil

(ton/ha)

Banyuasin

Blas, HDB strain 3

Fe (10 ppm),

Al (5,4 ppm)

4 - 6

Batanghari

Blas, HDB strain3

Keracunan Fe

Lahan gambut,

Sulfat masam

5 – 6

Dendang

Blas, bercak coklat

Peka HDB strain 3-4

Lahan gambut

Sulfat masam

Fe dan salinitas, Al

3 – 5

Indragiri

Blas, HDB strain3

Keracunan Fe & Al

4,5 – 5,5

Punggur

Blas

Keracunan Fe & Al

4,5 – 5

Martapura

Hawar pelepah

Blas leher

Tanah masam (PH4)

Keracunan besi

3 – 4

Margasari

Hawar pelepah

Blas leher

Tanah masam (PH4)

Keracunan besi

3 – 4

Siak Raya

HDB srain 3-4

Blas daun&leher

Bercak coklat

Keracunan Fe dan Al

5

Tenggulang

Blas daun dan leher

HDB strain 3-4

Sulfat masam

Bergambut

5

Lambur

Blas daun

Bercak coklat

Keracunan Fe & Al

Kweragaman, bergambut dan sulfat masa

3,99

Mendawak

Blas

Bercak daun coklat

Keracunan Fe & Al

Kweragaman, bergambut dan sulfat masa

3,98

Kesebelas VUTB yang dilepas tersebut mempunyai potensi hasil yang cukup tinggi dan tahan terhadap penyakit utama padi di rawa lebak dan pasang surut, serta tolern terhadap cengkapaman lingkungan.

III. PENGENALAN YAKIT JAGUNG

3.A. Penyakit yang disebabkan oleh jamur.

Beberapa penyakit utama pada jagung, gejala dan faktor yang mempengaruhinya, akan diuraikan dibawah ini.

3.A.1. Penyakit Bulai

Penyakit bulai merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman jagung, yang menjadi momok bagi petani, karena penyakit ini sampai saat ini masih sangat sulit dikendalikan. Sehingga kerugian hasil akibat serangan penyakit ini masih sering terjadi. Kerugian akibat serangan penyakit bulai ini dapat mencapai 100% (Balitsereal, 2004). Oleh karena itu, jika tanaman jagung sudah terserang penyakit bulai, harus di lokalisasi atau dicabut, untuk menghambat perkembangan penyakit ini. Tanaman jagung yang muda lebih rentan terinfeksi penyakit bulai dari pada tanaman tua. Jamur ini biasanya menjadi sistemik, terutama dalam tanaman muda

Gejala

Gejala dari penyakit bulai, yaitu adanya garis atau belang berwarna kuning terlihat nyata pada daun, terutama pada pangkal daun. Bagian bunga jantannya menjadi seperti daun, jika tanaman terinfeksi penyakit bulai dari awal. Bulu-bulu halus yang berwarna putih, terlihat seperti warna kuning. Perkembangan penyakit ini didukung oleh kelembaban lingkungan. (Studebaker G, et al, 2003). Gejala lanjut daun terlihat menjadi belang dan berwarna kekuning-kuningan.

Patogen

Penyebab dari penyakit bulai ini adalah jamur Peronocleospora maydis. Penyebaran dari penyakit ini dapat melalui benih, sehingga penggunaan benih yang bermutu, yaitu bebas dari penyakit, sangat penting. Penyakit ini juga dapat menginfeksi benih yang sedang berkecambah, sehingga benih tidak muncul (tumbuh). Jika pada saat perkecambahan belum muncul gejala oleh penyakit bulai, tetapi penyakit bulai ini tetap berkembangbiak, maka tanaman yang dihasilkan akan tumbuh abnormal. Satu benih saja yang terinfeksi, dapat menginfeksi banyak tanaman di lapangan. Karena penyebaran penyakit bulai, selain terbawa benih, juga dapat melalui tanah, air, luka, lubang alami (stomata) dan angin. Konidiospora berukuran panjang 180 – 300 µm, terletak berdiri tegak, menyebar , tidak berwarna.

3.A.2. Hawar Daun Jagung

Gejala

Gejala awal dari penyakit hawar daun jagung, bercak berwarna coklat kehijauan, bentuk elip memanjang. Gejala lanjut menyebabkan, daun menjadi kemerah-merahan, dan jika serangan terus berkembang, daun menjadi kering (keabu-abuan). Pada umumnya gejala diawali dari daun bagian bawah, kemudian berkembang secara vertical (ke atas). (Wibowo B.S,dkk,2002). Perkembangan penyakit hawar daun jagung ini sangat dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban. Pada suhu sekitar 300C, sangat mendukung perkembangan penyakit ini, sehingga dapat menyebabkan terjadinya nekrosis yang menyebar secara menyeluruh pada daun (Watkins J.E, et al, 1995)

Patogen

Penyakit hawar daun jagung disebabkan oleh jamur Helminthosporium maydis. Penyakit ini sering mengakibatkan kerusakan berat dan penyebarannya sangat luas. Kerusakan akibat serangan penyakit hawar daun jagung ini, dapat mengakibatkan puso. Seperti yang terjadi di Sumatra Utara, ratusan hektar tanaman jagung puso dan ribuan hektar mengalami serangan berat (Balitsereal, 2004). Konidia berukuran 15-20 x 70-160 µm, warna coklat, bentuk seperti jarum. Mempunyai kurang lebih 11 septa dan pertumbuhan secara bipolar.

3. A.3. Busuk batang (Fusarium Root Rot)

Gejala

Gejala pada Akar tanaman jagung berawrna kecoklatan, sampai dengan coklat kehitaman sampai dengan akar mengalami busuk secara total. Meskipun demikian jamur patogen dapat diisolasi pula dari perakaran yang kelihatannya sehat. Gejala busuk batang yang disebabkan oleh F. moniliforme, mempunyai kemiripan dengan busuk batang yang disebabkan oleh mikroorganisme lain (Gibberella sp, antraknosa). Sehingga tidak mudah dibedakan dari penyakit busuk batang, yang diakibatkan oleh mikroorganisme lain (Gibberella sp, antraknosa). Karena tidak adanya tanda-tanda jamur F. moniliforme yang memudahkan untuk dikenal. Untuk mengidentifikasi busuk batang yang disebabkan oleh F. Moniliforme, hanya jika pada gejala tersebut tidak ada tanda-tanda gejala dari mikroorganisme lain yang menyebabkan busuk batang. Seperti busuk batang yang disebabkan oleh Gibberella sp, pada batang bawah warnanya menjadi kekuning-kuningan. Sedang busuk batang yang disebabkan oleh antraknosa, pada batang bagian luar berwarna hitam. Jadi untuk memastikan busuk batang yang diakibatkan F. Moniliforme, dengan cara dibelah dan diinkubasikan, dan ditanam pada media agar, maka akan keluar miselia berwarna merah muda (Koening

Patogen

Sejumlah Fusarium spp dapat berperan mengakibatkan penyakit tersebut, yang paling umum adalah F. Oxysporum dan F. Solani. Yang lainnya adalah F. Moniliforme.

Salah satu penyebab penyakit busuk batang pada tanaman jagung, yaitu jamur Fusarium moniliforme. Keberadaan F. moniliforme, disamping dapat terbawa angin, juga berada dalam tanah. Oleh karena itu Fusarium sp dalam menginfeksi tanaman, selain melalui daun, juga dapat melalui akar tanaman. Keberadaan F. moniliforme didalam tanah mampu bertahan bertahun-tahun.

S, 1999).

Serangan berat dari penyakit busuk batang jagung, sering muncul pada waktu musim hujan. Karena kondisi pada musim hujan sangat cocok, dimana suhu dan kelembabannya mendukung pertumbuhan F. moniliforme. Kerusakan yang diakibatkan dari penyakit busuk batang jagung dapat menggagalkan panen. Terutama jika serangan terjadi pada fase vegetatif, dimana pada fase ini merupakan fase awal dari suatu tanaman sebelum menghasilkan produksi. Jika pada fase awal sudah terdapat gangguan dalam pertumbuhannya, maka tahapan produksi akan terganggu juga. Jadi fase kritis dari penyakit busuk batang ini adalah pada fase vegetatif. Pengolahan tanah yang baik, sebelum tanam perlu diperhatikan. Adanya pengolahan tanah, maka bagian tanah yang sebelumnya berada dibawah, menjadi terbalik keatas. Tanah yang dibawah ini merupakan habitat dari F. moniliforme. Dengan adanya pembalikan tanah ini, maka keberadaan Fusarium sp menjadi diatas. Fusarium sp yang berada diatas akan terkena sinar matahari. Sinar matahari ini akan merusak jaringan F. moniliforme, akibatnya dapat menyebabkan kematian F. moniliforme. Disamping itu adanya sinar matahari, menyebabkan suhu dan kelembaban tidak cocok lagi untuk pertumbuhan F. moniliforme.

F. moniliforme, selain dapat menyerang batang, juga dapat menyerang buahnya. Buah jagung (tongkol) yang terserang penyakit F. moniliforme, menjadi keriput atau bijinya tidak terisi penuh (abnormal). Sehingga kualitas dari tongkol menjadi jelek. Ini tentu saja akan mempengaruhi harga jual dari produk jagung, yaitu menjadi murah. Disamping kualitas menjadi jelek, kuantitas produk jagung yang terserang penyakit F. moniliforme, akan mengalami penurunan. Melihat kerugian hasil yang diakibatkan serangan penyakit busuk batang, cukup tinggi, maka perlu penanganan khusus. Untuk menekan kerugian hasil yang terus menerus, Balitsereal telah menguji beberapa varietas jagung yang diharapkan tahan terhadap penyakit busuk batang yang diakibatkan F. moniliforme dan kerugian hasil akibat serangan penyakit busuk batang dapat ditekan. Beberapa varietas unggul baru dan galur-galur jagung, yang merupakan koleksi dari Balitsereal, dan mempunyai sifat ketahanan terhadap penyakit busuk batang, seperti Antasena, Bisma, Lagaligo, Surya dan Wisanggeni (Balitsereal, 2004).

3.A.4. Hawar Pelepah Daun Jagung

Gejala

Gejala dari Rhizoctonia sp yang menginfeksi benih, dapat mengakibatkan rebah kecambah (damping off). Gejala pada tahap awal, dipermukaan pelepah daun yang terinfeksi terlihat bercak berwarna kemerah-merahan kemudian ber-ubah menjadi abu-abu. Bercak meluas menjadi hawar dan sering terjadi sklerotia. Gejala hawar dimulai dari bagian tanaman yang dekat dengan tanah, menjalar ke bagian atas (Sumartini dan Hardaningsih, 1995 dalam Winarsih S, 1998).

Patogen

Penyebab dari penyakit hawar pelepah daun jagung, yaitu jamur Rhizoctonia sp. Rhizoctonia sp merupakan salah satu penyakit ”soilborne”, atau penyakit tular tanah. Oleh karena itu Rhizoctonia sp biasanya menginfeksi pada bagian bawah tanaman, seperti, benih, hypocotyl dan akar. Tetapi penyakit Rhizoctonia sp, juga mampu menginfeksi bagian atas tanaman, seperti buah, daun dan batang. Karena perkembangan atau penyebaran penyakit ini dapat melalui udara, percikan air hujan, luka dan lubang alami. Dimana miselia atau konidia yang terbawa angin atau percikan air hujan akan menempel pada bagian tanaman, dan jika kondisi mendukung, miselia dari penyakit ini akan mempenetrasi jaringan tanaman dan berkembang. Oleh karena itu tidak hanya pada bagian bawah tanaman, tetapi penyakit ini juga dapat menginfeksi pada bagian atas tanaman. Bagian tanaman yang sudah terinfeksi oleh penyakit ini, pada jaringan tanaman tersebut akan tertutup oleh miselia dari penyakit yang menginfeksinya. Akibatnya jaringan tanaman tidak dapat berkembang dengan baik, dan munculah gejala dari penyakit tersebut.

Intensitas serangan penyakit hawar pelepah daun jagung di lahan gambut sebesar 18% (Ali, 1996 dalam Winarsih S, 1998). Serangan penyakit hawar pelepah daun jagung, dapat terjadi dari awal pertanaman. Mengingat keberadaan dari jamur Rhizoctonia sp ini ada di dalam tanah. Keberadaan jamur Rhizoctonia sp ini mampu bertahan bertahun-tahun didalam tanah dan juga didalam jaringan tanaman (biji). Sehingga pengolahan tanah sebelum tanam dan Pemilihan benih yang sehat, merupakan faktor utama dalam mencapai keberhasilan produksi jagung.

Kerugian yang diakibatkan oleh serangan penyakit hawar pelepah daun jagung, sama seperti halnya penyakit utama lainnya, cukup tinggi. Mengingat daun merupakan proses untuk pembentukan energi berupa karbohidrat dengan bantuan sinar matahari atau yang disebut dengan fotosintesa. Energi yang dihasilkan akan dilanjutkan untuk proses fase selanjutnya, yaitu pembuahan. Sehingga proses ini sangat menentukan berhasil tidaknya suatu tanaman untuk mencapai fase generatif, yaitu pembuahan (berproduksi). Jika pelepah daun sudah terinfeksi oleh suatu penyakit, maka jaringan pada pelepah ini akan ada yang rusak. Rusaknya jaringan pada pelepah ini sangat mempengaruhi penyebaran makanan sampai kedaun. Daun yang kurang mendapatkan makanan, mengakibatkan tidak maksimalnya daun tersebut untuk menghasilkan energi, meskipun daun cukup mendapatkan sinar matahari. Akibatnya proses sampai produksi akan terganggu.

3.A.5. Bercak Daun

Penyakit bercak daun jagung dapat disebabkan oleh beberapa jenis jamur, dengan gejala khas masing-masing. Jamur penyebab bercak ini antara lain : Karat, Cercospora sp, Physoderma sp dan Antraknosa. Gangguan dari penyakit bercak daun ini, meski sering muncul di lapang, tetapi masih belum menyebabkan kerugian secara ekonomis untuk tanaman jagung. Karena meski ada serangan dari penyakit bercak daun, sampai dengan saat ini produksi masih dapat di pertahankan. Namun demikian keberadaan penyakit bercak daun tetap diperhatikan, karena penyakit ini dapat menyebabkan produksi menurun, jika kondisi lingkungan cocok untuk perkembangannya. Apalagi penyakit bercak, sering menyerang daun. Seperti diketahui, bahwa daun merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam berproduksi pada tanaman.

Perkembangan penyakit bercak pada umumnya sangat dipengaruhi oleh kelembaban mikro dan suhu dalam lingkungan pertanaman tersebut. Sehingga serangan penyakit bercak ini tidak hanya pada musim hujan, tetapi juga dapat terjadi pada musim kemarau. Gejala dari penyakit bercak ini mempunyai kekhasan masing-masing. Berikut akan diuraikan gejala dari penyebab penyakit bercak daun.

a. Karat

Penyebab penyakit karat adalah jamur Puccinia sp. Gejala dari daun jagung yang terserang penyakit karat, akan muncul pustul (bercak yang timbul) kecil-kecil, warnanya terang, kemerah-merah atau coklat keemasan. Pustul ini nampak pada kedua permukaan daun, baik pada bagian atas maupun bawah daun. Warna pustul yang terang akan berubah menjadi coklat kehitaman, dengan bertambahnya umur dari jagung tersebut (fase generatif).

Penyebaran penyakit karat ini, sporanya dapat terbawa angin. Perkembangan penyakit karat, sangat dipengaruhi oleh kelembaban pada musim hujan dan suhu yang dingin. Pada musim kemarau, atau kondisi lingkungan kering, akan terjadi penurunan perkembangan penyakit karat. Suhu untuk perkembangan penyakit karat ini sekitar 16 sampai 210C (Ortiz L, Ribbing, 2000). Namun demikian jika kondisi kering dan spora dari penyakit karat ini jatuh pada tanaman jagung, maka masih mungkin spora ini untuk menginfeksinya. Karena adanya kumpulan embun, yang membantu spora dari penyakit karat untuk berkecambah. Hal ini menggambarkan, bahwa bagaimanapun juga kekuatan penyakit untuk menginfeksi suatu tanaman sangat tergantung dari varietas tanaman dan pertumbuhan dari tanaman tersebut, ketika terjadi infeksi suatu penyakit.

b. Cercospora

Gejala penyakit yang disebabkan oleh Cercospora zeae-maydis, yaitu adanya bercak seperti luka yang panjang dan sempit, yang dibatasi oleh lebarnya urat daun (vena). Konidia dalam kumpulan konidia dari C. zeae-maydis, berwarna putih atau silver (Iowa State University, 2005). Konidia ini akan tampak jelas dilihat setelah 24 jam diinukabasikan, dengan membedah bagian tanaman yang terinfeksi oleh C. zeae-maydis dibawah mikroskop.

c. Physoderma

Gejala dari penyakit yang disebabkan oleh jamur Physoderma maydis, yaitu bercak kecil berwarna kuning, bergerombol pada jaringan daun. Gejala lanjut menyebabkan daun berwarna coklat gelap (Iowa State University, 2005). Sporangia yang dihasilkan dalam jaringan daun yang terinfeksi penyakit ini, terlihat menyerupai penyakit karat.

d. Antraknosa

Gejala tanaman yang terserang penyakit antraknosa, yaitu adanya bercak oval atau tidak beraturan, seringkali terjadi pada daun bawah. Bercak ini berwarna coklat, yang dikelilingi oleh klorotik (klorofil yang rusak dalam tanaman, yang menyebabkan warna hijau pucat atau kekuning-kuningan) (Iowa State University, 2005). Bercak-bercak ini akan berkembang, yang menjadikan antara bercak satu dengan lainnya bergabung. Sehingga menyebabkan bertambah luas jaringan daun yang mati. Gejala antraknosa (dari University of Guelph, 2000), yaitu adanya bercak kecil yang bentuknya tidak beraturan, water soake. Bila gejala berlanjut, warna bercak ini menjadi coklat, batas pinggirannya berwarna coklat kemerah-merahan. Pada batang yang terserang antraknosa, nampak seperti garis hitam pada permukaannya. Kemudian berkembang, bentuknya menjadi oval, warnanya menjadi gelap (University of Guelph, 2000). Penyebab dari penyakit antraknosa ini adalah jamur Colletotricum sp.

3.B. Penyakit yang disebabkan oleh Bakteri

3.B.1. Penyakit Layu Bakteri

Gejala

Gejala yang dibagi menjadi 2 fase, fase pertama pengaruh terhadap tanaman muda , yang secara sistematis terinfeksi dan dengan cepat akan layu dan mati, gejala mirip dengan gejala kekeringan, kekurangan hara atau luka oleh serangga. Koloni bakteri terdapat sistem vascular dan dapat menebar ke seluruh bagian tanaman. Fase kedua ditunjukan dengan hawar pada daun. Bercak pada daun abu kehijauan berkembang seperti garis lurus sepanjang vena. Daun kemudian cepat mengering.

Patogen

Penyebab penyakit adalah bakteri patogen Erwinia stewartii. Bakteri non motil, fakultatif anaerob, gram negatif, bentuk batang ( 0,4 – 0,8 x 0,9 – 2,2 µm). Koloni pada ”yeast extract-dextrose-calcium carbonate agar” berwarna kuning dan konvex.

3.C. Gejala Fisiologis pada jagung

Kerusakan tanaman, tidak selalu diakibatkan oleh gangguan penyakit. Tetapi gejalanya menyerupai serangan penyakit. Gejala yang dimaksud ini adalah akibat gangguan fisiologis, seperti kekurangan salah satu atau lebih unsur hara pada tanaman budidaya. Supaya tidak salah mengidentifikasi suatu gejala, maka gejala fisiologis tanaman jagung perlu diketahui dan dipahami. Sehingga paham betul, perbedaan antara gejala penyakit dan gejala fisiologis tanaman jagung. Jika pengetahuan tentang perbedaan kedua gejala ini sudah dipahami, maka dalam mengambil tindakan pengendalian akan tepat.

Unsur hara yang sering menjadi masalah didalam pertanaman, seperti : Fe,P,K, N, Mg dan sebagainya. Unsur hara ini merupakan nutrisi bagi suatu tanaman. Jika nutrisi ini tidak terpenuhi (kecukupan) dalam masa pertumbuhannya, maka pertumbuhan tanaman menjadi tidak sehat. Akibatnya produksi yang dihasilkan juga tidak normal (tidak mencapai standart produksi), dan petani mengalami kerugian.

Tanaman akan sehat, jika mendapatkan cukup unsur hara selama masa pertumbuhan. Gejala kekurangan unsur hara timbul, disebabkan karena kebutuhan akan unsur hara tersebut tidak terpenuhi. Jika sudah hafal terhadap gejala kekurangan unsur hara, maka masalah ini akan cepat terdekteksi secara dini, misalnya dengan penambahan pupuk (jika kekurangan salah satu unsur yang terkandung dalam pupuk tersebut). Ini merupakan pengetahuan yang cukup penting, yang harus diketahui oleh petani, sebagai pemilik lahan.

Perubahan warna daun akibat kekurangan unsur hara, mengakibatkan proses fotosintesa terganggu. Daun dari tanaman jagung yang sehat, berwarna hijau tua. Warna ini menunjukan bahwa daun tersebut berkadar klorofil tinggi, yang sangat dibutuhkan oleh suatu tanaman untuk menangkap sinar matahari, untuk menghasilkan karbohidrat yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Proses ini biasa disebut dengan fotosintesa. Jika daun berubah warna (menjadi tidak normal), maka akan mengakibatkan menurunnya produksi karbohidrat, sehingga pertumbuhan tanaman terganggu. Berikut akan dijelaskan gejala suatu tanaman yang kekurangan beberapa unsur hara.

a. Kekurangan Nitrogen

Gejala tanaman yang kekurangan Nitrogen (N), daun berwarna hijau kekuningan, pada tanaman muda. Pada daun tua, ujung daunnya menjadi kuning, dan warna ini akan berkembang sepanjang tulang daun utama., tetapi pinggiran daun tetap berwarna hijau. Serangan kekurangan unsur hara N, tidak terjadi pada satu daun saja, tetapi dapat mengenai daun yang lain, karena sifat dari N mobil (bergerak) dalam tanaman. Gejala kekurangan N, akan merambah ke daun-daun diatasnya, dan daun tua akan mati. Batangnya menjadi kurus dan panjang. Tongkolnya menjadi kecil dan bijinya sedikit. (White, D.G, 2000). Uji kekurangan N pada jaringan tanaman, dapat dilakukan dengan menggunakan indikator bahan kimia atau alat elektronik. Kekurangan unsur N pada tanaman yang masih muda, dapat ditambahkan pupuk N, pada sisi tanaman.

b. Kekurangan Zat Besi (Feri)

Gejala tanaman yang kekurangan zat besi (Fe), pada seluruh permukaan atas daun menjadi hijau pucat, dan disekitar vena (tulang daun) warnanya hampir putih. Kekurangan zat besi jarang terjadi, kecuali pada tanah alkalin (basa), dengan pH tinggi, basah, tanahnya padat, aerasi kurang bagus dan cuaca dingin (White, D.G, 2000).

c. Kekurangan Phospor

Kekurangan Phospor (P) sudah tampak jelas pada tanaman muda. Gejala awal daun berwarna ungu kemerah-merahan. Ujung daun mati dan warnanya berubah menjadi coklat gelap. Kekurangan P pada tanaman muda, banyak terajadi pada tanah yang mempunyai suhu rendah, udara terlalu kering atau terlalu basah, pada saat awal pertumbuhan atau adanya pembatasan (restriksi) fisik untuk pertumbuhan akar, ketersediaan P didalam tanah kurang, rusaknya akar karena serangga, pengolahan tanah yang kurang bagus dan penggunaan herbisida. Kekurangan P, Batang (tangkai) menjadi lemah dan kecil, tanpa tongkol atau tongkolnya kecil dan melengkung (tidak normal).

d. Kekurangan Kalium

Tanaman yang kekurangan Kalium (K), pada daun tua berwarna kuning atau kecoklatan sepanjang pinggir daun. Warna ini akan berkembang arah tulang daun utama, dan pada daun-daun diatasnya. Pada batang bagian dalam jika diiris memanjang, warnanya coklat (busuk), Ukuran tongkol, tidak terlalu dipengaruhi oleh kekurangan K, tetapi biji-biji jagung pada ujung tongkol tidak berkembang dan tongkol jagung banyak kelobotnya dengan biji sedikit (Ismunadji, M, 2003). Kekurangan K, biasanya pada tanah berpasir. Ini menggambarkan bahwa K, merupakan faktor utama dalam efisiensi penggunaan air. Oleh sebab itu pada tanah yang mengalami kekeringan, tanamannya akan lebih nyata kekurangan K.

e. Kekurangan Magnesium

Tanaman jagung kekurangan Magnesium (Mg), dapat terjadi mulai dari tanaman muda. Pada ujung daun dari tanaman muda berwarna kekuningan. Sedang pada daun tua, sisi kanan dan kiri dari tulang daun, timbul warna keputih-putihan, dan pada pinggir daun , berwarna merah keunguan. Kekurangan Mg, sering terjadi pada tanah masam, dengan pengolahan tanah yang kurang intensif. Untuk mengatasinya dengan memberikan dolomit.

f. Kekurangan Hara Lainnya

Kekurangan unsur hara lain, seperti Sulfur (belerang), Cupri (tembaga), Zinc (seng) dan Boron, perlu juga diketahui gejalanya, meskipun masih jarang terjadi. Tujuannya untuk menghindari kerusakan tanaman aikibat gejala fisiologis. Kekurangan unsur mikro belerang (S), gejalanya mirip dengan kekurangan N, yaitu pertumbuhan terhambat, daun berwarna kekuning-kuningan. Kekurangan belerang, sering terjadi pada tanah berpasir atau tanah dengan bahan organik rendah. Untuk mengembalikan kekurangan belerang, dapat menggunakan pupuk yang mengandung belerang (S). Sedang gejala kekurangan tembaga (Cu), daun pucuk dari tanaman jagung mengering atau melilit. Kekurangan seng (Zn) pada tanaman, ditandai dengan adanya garis-garis klorotik yang paralel dengan tulang daun. Kekurangan Boron (B), ditunjukan dengan gejala pada daun muda berwarna keputih-putihan, adanya bercak disekitar tulang daun bentuknya tidak rata. Kekurangan B, sering terjadi pada tanah berpasir, kekurangan bahan organik dan pH tinggi (White, D.G, 2000).

Didaerah dengan lahan yang rentan terhadap gejala fisiologis, sebaiknya dilakukan uji tanah secara teratur untuk memonitor pH, kadar P,K dan N. Dilakukan uji ini bertujuan untuk menghindari kerugian secara ekonomis, pada musim tanam selanjutnya. Didaerah yang lembab, lebih dititik beratkan pada uji pH, Pdan K. Sedang untuk didaerah kering, perlu dilakukan uji nitrat, untuk mengetahui residu nitrat yang masih tersisa pada musim tanam sebelumnya (Ismunadji, M, 2003).

3.D. Pengendalian penyakit jagung

Tanaman yang sudah terinfeksi suatu penyakit, tidak bisa disembuhkan, tetapi hanya dapat dihambat perkembangan penyakit tersebut. Pengendalian yang paling aman dan baik, yaitu dengan menggunakan varietas tahan (seperti telah dijelaskan diatas), melakukan rotasi tanaman, menanam serempak dan periode bebas jagung. Varietas tahan yang diusahakan ini biasanya hanya tahan terhadap salah satu penyakit. Oleh karena itu pengendalian dengan cara lain perlu dilakukan. Pengendalian ini, misalnya dengan menggunakan pestisida kimia. Pestisida kimia yang sudah pernah diuji untuk mengendalikan penyakit, antara lain Fungisida Mancozeb dan Carbendazim. Kedua fungisida ini telah diketahui efektif untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh Fusarium sp, tanpa menimbulkan resistensi (Balitsereal, 2004). Sedang untuk pengendalian penyakit bulai, digunakannya pestisida yang berbahan aktif metalaksil. Disamping pestisida kimia, untuk mengendalikan penyakit dapat menggunakaan atau memanfaatkan musuh alami yang ada. Musuh alami untuk penyakit, biasanya menggunakan mikroorganisme atau biasa disebut dengan agens antagonis. Agens antagonis ini merupakan bagian dari agens hayati. Agens hayati adalah organisme yang berperan sebagai musuh alami.

Pengendalian penyakit pada tanaman jagung, dengan memanfaatkan agens hayati sudah banyak dilakukan oleh balai penelitian. Dikembangkannya agens hayati untuk mengendalikan penyakit jagung, karena penggunaan pestisida kimia, sebisa mungkin harus dihindari. Hal ini mengacu pada pengendalian secara terpadu (PHT). Mengingat pestisida kimia mempunyai efek samping yang sangat berbahaya, baik pada lingkungan maupun pada manusia sendiri. Agens hayati yang sudah pernah diteliti oleh Balitsereal dalam mengendalikan penyakit, yaitu cendawan antagonis Trichoderma sp. Cendawan Trichoderma sp, efektif dalam menekan perkembangan penyakit busuk batang yang disebabkan oleh Fusarium sp. Pengujian ini masih dalam tingkat laboratorium, sedangkan pengujian tingkat lapang, masih perlu diteliti (Balitsereal, 2004).

Hasil penelitian dari mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, tentang Seleksi Agen Pengendali Hayati Untuk Mengendalikan Penyakit Hawar Pelepah Daun Jagung (Rhizoctonia sp) yang Ditanam di Tanah Gambut, menunjukan bahwa dari 6 isolat hasil eksplorasi dari tanah pada areal tanaman jagung, baik tanah biasa maupun dari tanah gambut, terdapat beberapa isolat yang efektif dalam menekan perkembangan penyakit hawar pelepah daun yang disebabkan oleh jamur Rhizoctonia sp. Adapun hasilnya seperti terlihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Persentase penghambatan pertumbuhan Rhizoctonia sp. oleh isolat jamur pada hari ke enam (Winarsih S, 1998).

Nomor Isolat

Agen antagonis

Persentase penghambatan (%)

Keterangan

1

2

3

4

5

6

Penicillium sp.

Aspergillus sp.

Penicillium sp

Trichoderma koningii

Aspergillus niger

Gliocladium sp

0

55

0

81

58

81

Tidak ada penghambatan

Tidak ada penghambatan

Agen antagonis yang mempunyai tingkat penghambatan yang tinggi terhadap perkembangan penyakit hawar pelepah daun, yaitu Trichoderma koningii dan Gliocladium sp,yaitu sebesar 81%. Prosentase ini sungguh sangat besar, karena sudah dapat menghambat lebih dari 50%. Tingginya kedua agens antagonis ini dalam menghambat penyakit hawar pelepah daun, dapat disebabkan karena habitat dari kedua agens antagonis ini berasal dari tanah, dan sangat cocok pada tanah yang mempunyai pH cenderung masam, dan merupakan jamur antagonis yang digunakan untuk mengendalikan penyakit tular tanah (Sundheim dan Tronsmos, 1980 dalam Winarsih S, 1998).

Kegiatan yang pernah dilakukan di Balai Besar Peramalan OPT, Jatisari, dalam mengendalikan penyakit hawar daun jagung dengan menggunakan agen hayati (agens antagonis), hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut. Agens antagonis yang digunakan merupakan hasil eksplorasi dari Balai Besar Peramalan OPT, Jatisari.

Tabel 2. Pengaruh aplikasi agens antagonis terhadap sebaran vertical penyakit hawar daun jagung (Wibowo B.S, dkk, 2002).

Perlakuan

Prosentase kemunculan gejala penyakit pada daun / batang (%)


Sebelum

Setelah aplikasi 1 x

Setelah aplikasi 2 x

Setelah aplikasi 3x

Corynebacterium

51,41a

77,64a

57,70a

56,85a

B M A

55,72a

73,21a

48,66a

63,21ab

J-02-008

57,44a

72,80a

45,04a

61,29ab

J-02-009

57,35a

72,30a

58,77a

58,49a

Propineb 70%

53,36a

67,91a

44,07a

57,87a

Kontrol

58,46a

73,91a

55,55a

71,82b

Huruf yang sama pada satu kolom tidak beda nyata setelah diuji dengan DMRT dengan tingkat kepercayaan 95%.

Jamur antagonis dengan kode J-02-008, didapat dari tanaman pakis, sedangkan jamur antagonis dengan kode J-02-009, didapat dari kayu manis. Kedua jamur antagonis ini belum teridentifikasi. Corynebacterium, merupakan bakteri antagonis yang berasal dari padi, sedangkan BMA (bakteri merah antagonis), hasil eksplorasi dari tanaman jagung. Aplikasi dilakukan pada umur 14, 28 dan 42 hst. Penggunaan Corynebacterium, jamur antagonis dari kayu manis dan fungisida, hasilnya berbeda nyata dengan kontrol. Ini menunjukan bahwa, kedua agens antagonis (Corynebacterium dan jamur antagonis dari kayu manis), efektif dalam menekan perkembangan penyakit hawar daun jagung. Disamping efektif, kedua agens antagonis ini juga efisien, karena hasilnya tidak berbeda nyata dengan fungisida. Seperti diketahui, bahwa fungisida harganya sangat mahal, dibandingkan dengan agens antagonis. Agens antagonis, petani juga bisa memperbanyak sendiri, meski diperlukan ketelatenan dan keuletan, karena mikroorganisme ini mudah terkontaminasi

Iv. AGENS ANTAGONIS

Agens antagonis merupakan sejenis mikroorganisme yang dapat berperan mengendalikan mikroorganisme yang bersifat patogen. Beberapa patogen yang terdiri jamur, bakteri khusunya telah banyak dilakukan pengendalian dengan memanfaatkan agens antagonis. Sehingga secara umum mikroorganisme yang mempunyai peran sebagai penyebab penyakit (patogen), secara alami ada musuh alaminya yang disebut dengan Agens Antagonis. Mekanisme agens antagonis dalam menekan patogen tanaman ada tiga yaitu :

  1. Persaingan dalam mendapatkan ruang untuk kelangsungan hidupnya, dalam hal ini persaingan untuk mendapatkan unsur hara dari dalam tanah.
  2. Antibiosis, mikroorganisme antagonis yang menghasilkan toksin (senyawa yang bersifat racun) yang berfungsi dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme patogen.
  3. Hipeparasitik, yaitu mikroorganisme yang menumpang pada mikroorganisme lain (patogen) untuk kehidupannya.

Beberapa praktek pemanfaatan Agens antagonis (AA) yang saat ini telah dilaksanakan di lapang, bahkan sampai ketingkat petani antara lain adalah :

- Pemanfaatan jamur Trichoderma sp dan Gliocladium sp yang ditambahkan kedalam kompos (Tricho kompos/ Glio kompos) yang banyak dipraktekan untuk budidaya padi organik. Dilaporkan beberapa jenis penyakit padi dapat tertekan olehnya.

- Pemanfaatan bakteri Pseudomonas fluorescens dan Corynebacterium untuk dipergunakan sebagai sarana pengendalian penyakit Hawar daun bakteri pada padi (X.C. pv. oryzae).

V. PENUTUP

Identifikasi penyakit padi dan jagung serta gangguan fisiologis t perlu dilakukan dengan sungguh, oleh karena penyakit padi dan gagguan fisiologis termasuk masalah utama yang menjadi kendala peningkatan produksi padi dan jagung.

5 komentar:

  1. Untuk mengetahui nilai kuantitas dari tiap gejala pada penyakit tanaman padi itu gmn?

    BalasHapus
  2. nalai kuantitas gmn maksudnya? apa yang dimaksud saudara itu adalah intensitas?

    BalasHapus
  3. makasih kag andi.. mohon masukanya kag karena ini aja masih belajar hehehehe

    BalasHapus
  4. Salam kenal bro .....
    terima kasih atas informasinya

    BalasHapus